Irvan Adilla: PEMBELAJARAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE BERJENJANG PADA SISWA KELAS XI SMK

Bloger Kanak Sasak

Thursday, May 26, 2011

PEMBELAJARAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE BERJENJANG PADA SISWA KELAS XI SMK

PEMBELAJARAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN

DENGAN MENGGUNAKAN METODE BERJENJANG PADA

SISWA KELAS XI SMK YAPIS SANTONG

TAHUN PELAJARAN 2010-2011

1. Latar Belakang Masalah

Kesulitan belajar merupaan suatu proses yang komplek yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan orang lain dan lingkungannya. Oleh karena itu, belajar dapat kapan saja dan di mana saja. Salah satu perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang memungkinkan disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya.

Pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Kejuruan pembelajaran mengarang, berdampak pada kurang memuaskannya tingkat siswa dalam membuat karangan, baik dari segi tema, alur, tokoh, ataupun fungsinya. Dalam mengajarkan bahasa Indonesia tidaklah mudah karena fakta menunjukan para peserta didik masih belum menguasai secara optimal penguasaan bahasa yang memiliki empat aspek penerapan yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis.

Apabila proses belajar itu diselenggarakan secara formal di sekolah-sekolah, tidak lain dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri siswa secara terencana, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap, Interaksi yang terjadi selama proses belajar tersebut dipengaruhi oleh lingkungannya, yang antara lain terdiri dari murid, guru, kepala sekolah, bahan atau materi pelajaran buku, modul, lembar kerja siswa, dan lain sebagainya, berbagai sumber belajar dan fasilitas belajar yaitu perpustakaan, laboratorium, radio, televisi dan lain-lain. Proses pembelajaran akan berlangsung secara baik juga sangat ditentukan oleh metode serta media yang digunakan.

Metode merupakan rencana keseluruhan penyajian bahan pembelajaran bahasa secara rapi dan tertib yang tidak ada bagian-bagiannya berkontradisi, dan semuanya itu didasarkan pada pendekatan terpilih. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia saat ini adalah pendekatan komunikatif. Pendekatan komunikatif beranggapan bahwa bahasa adalah sebagai sarana berkomunikasi. Belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu pengajaran bahasa harus diarahkan untuk membuat siswa terampil berkomunikasi dengan bahasa Indoneia yang baik dan benar.

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, Bab I, pasal 1, ayat (6) disebutkan bahwa pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.

Perhatian utama guru harus ditujukan pada bagaimana menciptakan kondisi yang baik sehingga merangsang siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Tugas ini akan dapat terlaksana apabila guru tidak lagi memandang bahwa tugas pokoknya semata-mata sebagai penyaji materi. Pengetahuan dan keterampilan dalam merancang pelajaran dalam bentuk rencana persiapan pembelajaran merupakan tuntutan yang tidak boleh ditunda-tunda lagi untuk segera dilaksanakan para guru.

Agar rancangan pembelajaran yang dibuat memiliki daya untuk memecahkan masalah belajar secara optimal, perlu terus menerus diadakan evaluasi. Evaluasi system instruksional dapat menunjukkan efektivitas suatu program pembelajaran. Hal ini sangat penting artinya bagi guru untuk menindalanjuti program pembelajaran yang telah disusun. Dengan demikian, efektivitas hasil yang dicapai secara optimal sesuai yang diharapkan.

Metode pembelajaran memiliki peran penting dalam mencapai tujuan pembelajaran. Metode merupakan cara yang dilakukan dalam proses pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan. Dalam pembelajaran menulis karangan misalnya, perlu metode yang sesuai dan dapat merangsang minat siswa untuk menulis.

Berdasarkan uraian di atas tampaklah bahwa metode merupakan komponen yang memegang peranan sangat penting dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya mengarang. Mengarang yang dikatakan memiliki bentuk bebas, tentunya akan menjadi sangat komplek bila pembelajarannya dilakukan dengan persiapan yang kurang baik. Sehingga penulis menyiapkan sebuah alternatif yang memungkinkan untuk diterapkan sehingga pembelajaran mengarang akan lebih bermakna. Dalam hal ini penulis menggagas sebuah metode yang digunakan dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia untuk mengarang yaitu dengan metode berjenjang. Penggunaan metode ini tidak terikat, artinya metode yang sudah ada dan sering dipergunakan belum terasa dapat meningkatkan kemampuan mengarang siswa kelas XI, tetapi dengan menggunaan metode berjenjang akan lebih menggairahkan suasana saat proses pembelajaran.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode berjenjang adalah cara yang digunakan dalam proses pembelajaran yang menggunakan metode berjenjang sebagai titik berat pelaksanaannya. Sehingga diharapkan dengan penerapan metode ini dalam proses pembelajaran mengarang akan lebih meningkatkan motifasi, kemampuan, dan kompetensi siswa terhadap materi mengarang di kelas XI Sekolah Menengah Kejuruan.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Bagaimanakah pembelajaran mengarang dengan menggunakan metode berjenjang pada siswa Kelas XI Sekolah Menengah Kejuruan Yapis Santong tahun pelajaran 2010-2011?

3. Tujuan Penelitian

Dengan memperhatikan rumusan masalah tersebut, maka dapat tujuandari penelitian ini adalah :

  1. Untuk memperoleh gambaran objektif penggunaan metode berjenjang pada pembelajaran mengarang siswa Kelas XI Sekolah Menengah Kejuruan Yapis Santong tahun pelajaran 2010-2011
  2. Untuk mengetahui kemampuan mengarang siswa kelas XI Sekolah Menengah Kejuruan Yapis Santong tahun pelajaran 2010-2011 dengan mengunakan metode berjenjang.

4. Manfaat Penelitian

a. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi bagi para pembaca atau peneliti lain dalam mengadakan penelitian lanjutan tentang penggunaan metode berjenjang di tempat lain, sehingga mereka dapat meneliti lebih detail lagi tentang metode pengajaran yang tepat.

b. Manfaat Praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan para pembaca untuk :

1) Mendapatkan informasi penting tentang tekhnik penggunaan metode berjenjang dalam pembelajaran mengarang bahasa Indonesia

2) Menambah wawasan dalam pengajaran bagi tenaga pendidikan dalam melaksanakan tugas di kelas

3) Sebagai bahan masukan bagi guru kelas di sekolah tempat pelaksanaan penelitian, sehingga ke depan akan lebih terpacu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mengarang yang akan berdampak pada peningkatan prestasi siswa di sekolah.


5. Landasan Teori

5.1 Model Pembelajaran Mengarang

Model-model pembelajaran mengarang yang disajikan ini merupakan cara-cara pembelajaran yang dapat diterapkan dalam mengajak siswa memulai mengarang.

  1. Menceritakan Gambar

Model ini hampir sama dengan mengamati gambar pada pembelajaran menulis puisi. Tetapi di sini gambar tidak hanya satu, melainkan beberapa yang menunjukkan urutan kronologis atau gambar seri. Misalnya guru memperlihatkan tempat gambar yang melukiskan perjalanan sayur dari kebun ke meja makan. Siswa diminta mengamati gambar tersebut dengan teliti. Kemudian, mereka diminta untuk melukiskannya ke dalam bentuk cerita yang pendek.

Berikut ini dialog yang kira-kira dapat terjadi antara guru dengan siswa:

Guru : “Anak-anak, dari ke empat gambar ini akan kita susun karangan. Supaya ceritanya hidup, perlu kamu beri pelaku. Dalam gambar itu ada pak tani, bukan?”

Siswa : “Ya, Pak”.

Guru : Pak tani boleh kamu beri nama siapa saja. Kamu juga boleh

memberi nama kampung tempat pak tani itu tinggal”.

Menceritakan gambar dengan cara itu dilakukan di kelas sebelas. Jika diterapkan di kelas sepuluh cukup dengan cara sebagai berikut: siswa diminta memperhatikan gambar itu dengan cermat. Kemudian mereka diminta untuk membuat dua kalimat yang tepat untuk setiap gambar.

  1. Melanjutkan Cerita Lain

Model ini didahului dengan kegiatan membaca atau mendengarkan cerita yang di pilih guru, misalnya cerita berikut ini.

Murti Anak Rajin

Murti baru berumur 17 tahun. Ia kelas sepuluh SMK Yapis Santong. Ia sudah terampil membantu ibunya bekerja di dapur.

Setiap hari Murti bangun pukul lima pagi. Membuka jendela dan menyapu lantai rumah serta halaman adalah pekerjaan yang biasa dilakukannya setiap pagi.

Selesai mandi dan berdandan. Murti makan pagi. Menjelang berangkat sekolah, ia berpamitan dulu kepada ayah bundanya. Murti amat hormat kepada orang tuannya itu. Ayah bundanya sangat sayang kepada Murti.

Pembelajarannya adalah sebagai berikut: Siswa diminta melanjutkan cerita di atas, misalnya dengan rambu-rambu seperti berikut :

Lanjutan cerita “Murti Anak Rajin” itu. Sebagai anak yang rajin, ceritakan keadaan di sekolah:

1) Kepatuhannya terhadap tata tertib sekolah

2) Sikapnya yang suka menolong teman yang sedang mengalami kesulitan

3) Sopan dan hormat kepada gurunya

4) Murah senyum dan pandai bergaul

5) Guru dan teman sekelasnya amat sayang kepadanya

3. Menceritakan Mimpi

Model menulis karangan (cerpen) dengan menceritakan mimpi ini diasumsikan akan mudah dikerjakan siswa sebab semua anak pasti pernah mimpi. Guru perlu memberikan gambaran bahwa cerita mimpi itu dapat ditambah atau dikurangi supaya jelas alur ceritanya. Biarkan siswa menyusun cerita sesuai dengan keinginannya.

4. Menceritakan Pengalaman

Pengalaman yang diceritakan dapat berupa pengalaman sehari-hari atau pengalaman yang mereka alami pada waktu liburan sekolah, darmawisata, bermain, dan sebagainya. Panduan yang diberikan guru adalah sebagai berikut.

Anak-anak, coba kamu ceritakan tentang perjalananmu dari rumah sampai ke sekolah. Dalam karanganmu itu termuat juga bagaimana tingkah lakumu elama dalam perjalananmu itu. Mungkin kamu kesal karena temanmu terlambat menjemput, mungkin kamu membaca buku selama perjalanan. Mungkin kamu bercakap-cakap dengan temanmu. Jika kamu berangkat sekolah berjalan kaki, mungkin kamu berhenti dalam perjalanan untuk sarapan sebentar, dan sebagainya. Dalam ceritamu dapat kamu tuliskan tentang kesedihan, kesenangan, kelucuan yang kamu alami.

Dalam pembelajaran, seorang guru minimal harus menguasai materi dan cara mengajarkannya kepada siswa. Kaitannya dengan itu, dalam hal ini akan diuraikan tentang media gambar berseri. Mengingat pentingnya peranan media wajarlah para guru memahaminya dengan baik.

Bagi guru bahasa Indonesia hal tersebut tetap berlakukarena bahasa Indonesia bagi sebagian siswa merupakan bahasa kedua. Pemahaman tentang media gambar berseri akan sangat membantu guru bahasa Indonesia untuk mengaplikasikan di dalam kelasnya.

Metode berjenjang adalah sebuh cara yang digunakan secara berjenjang atau bertahap dengan tujuan agar siswa cepat menguasai materi pembelajaran mengarang, dengan menekankan pada jenis metode yang digunakan secara bertahap sesuai dengan tujuan. Dalam pengunaannya sangat ditentukan oleh keaktifan dan suasana pembelajaran, faktor lingkungan serta kultur sekolah. Hal ini memungkinkan guru untuk mengembangkan dan melakukan inovasi terhadap pembelajaran, sehingga dalam pengajaran Mengarang di kelas XI Sekolah Menengah Kejuruan akan lebih optimal dan sesuai dengan tujuan serta kompetensi yang diinginkan.

5.2 Pengertian Metode

Berbicara mengenai metode, tidak terlepas dengan teknik dan pendekatan. Dalam proses belajar mengajar bahasa, salah satu segi yang sring disoroti adalah metode. Berhasil atau gagalnya suatu program pengajaran sering kali disebabkan kurang tepatnya metode yang digunakan. Anggapan semacam itu timbul karena metode dianggap sebagai sarana yang menentukan cara mengajar bahasa.

Oleh karena itu, dalam rangka pendekatan terhadap istilah tersebut perlu dibedakan pengunaan istilah pendekatan, metode, dan teknik. Jika pendekatan bersifat aksiomatik yang menyatakan pendirian, filsafat dan keyakinan, maka metode bersifat prosedural dan merupakan rencana menyeluruh yang berhubungan dengan rencana penyajian dari materi pelajaran itu sendiri. Dengan demikian metode bukan saja mencakup menganai bagaimana cara mengajar tetapi bersifat implementasional. Artinya apa yang sesungguhnya dilakukan guru di dalam kelas. Teknik dapat juga berarti suatu strategi guru untuk mencapai sasaran. Teknik mengajar harus konsisten dengan metode karena itu tidak boleh bertentangan dengan pendekatan.

Seorang guru A mengunakan metode yang sama dengan guru B, tetapi hasilnya berbeda. Penyebabnya adalah teknik mengajar yang kurang tepat, kadang-kadang inilah sebabnya mengapa murid lebih senang kepada guru A dibandingkan dengan guru B, padahal metode dan materi pelajaran sama. Salah satu faktornya adalah teknik guru A lebih kreatif atau mampu menggunakan teknik-teknik yang menarik. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dijelaskan bahwa:

Metode adalah : (1) cara yang teratur dan berfikir baik-baik Untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan, dsb), (2) cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guru mencapai tujuan yang ditentukan, sedangkan teknik merupakan, (1) pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu berkenaan dengan hasil industri (bangunan, mesin, dsb). (2) cara (kepandaian, dsb) membuat sesuatu atau melakukan sesuatu yang berhubungan dengan seni, dan pendekatan adalah (1) proses pembuatan, cara mendekati, (2) usaha dalam rangka aktifitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang yang diteliti atau metode-metode untuk mencapai pengertian tentang masalah penelitian ( Poerwadarminta, 1987: 58 ).

Dari uraian di atas penulis dapat simpulkan bahwa antara metode, teknik, dan pendekatan tidak dapat disamakan karena teknik merupakan penjabaran dari metode, sedangkan metode merupakan penjabaran dari pendekatan. Terlepas dari pengertian di atas metode tidak selamanya membuat keberhasilan anak dalam belajar karena metode hanyalah alat saja, akan tetapi yang paling penting adalah kualitas anak itu sendiri, disamping itu keberhasilan belajar anak juga ditentukan cara mengajar guru.

5.3 Jenis-jenis Metode Pembelajaran

a. Metode Ceramah

Metode ceramah masih banya digunakan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran secara klasikal. Metode ceramah merupakan suatu cara penyajian bahan atau penyampaian bahan peljaran secara lisan dari guru.

b. Metode Diskusi

Metode ini sering digunakan dalam pembelajaran kelompok, umpamanya kalau mengunaan pendekatan CBSA dan keterampilan proses dalam pembelajaran metode ini sering digunakan. Metode mengajar diskusi merupakan cara mengajar dalam pembahasan dan penyajian materi yang melalui suatu problema atau pertanyaan yang harus diselesaikan berdasaran pendapat atau keputusan secara bersama.

c. Metode Simulasi

Metode simulasi merupakan metode mengajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran kelompok. Mengajar dengan simulasi objeknya bukan benda atau kegiatan yang sebanarnya, tetapi kegiatan mengajar yang bersifat pura-pura. Simulasi yang dapat dilakukan oleh siswa Sekolah menengah kejuruan pada kelas XI ke atas, karena kegiatan pembelajaran menuntut adanya kemampuan siswa dalam berinteraksi dalam kelompok.

d. Metode Demonstrasi

Merupakan metode mengajar menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukan secara langsung objeknya atau caranya melakukan sesuatu untuk mempertunjukkan proses tertentu. Demonstasi dapat digunakan pada semua mata pelajaran. Dalam pelaksanaannya guru harus sudah yakin bahwa seluruh siswa dapat memperhatikan terhadap objek yang akan di demonstrasikan sebelu proses demonstrasi guru sudah mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan dalam demonstrasi tersebut.

e. Metode Eksperimen

Merupakan metode mengajar dalam penyajian atau pembahasan materi yang melalui percobaan atau mencobakan sesuatu serta mengamati secara proses. Eksperimen sulit dipisahkan dengan demonstrasi karena keduanya kemungkinan dapat digunakan secara bersamaan.

f. Metode Berjenjang

Merupakan metode yang menyatukan berbagai metode pembelajaran mengarang, metode ini dimulai dari metode mengarang dengan media gambar, selanjutnya mengarang dengan melanjutkan karangan yang telah disediakan, terakhir mengarang sendiri sesuai dengan

Tema yang ditetapkan. Dengan kata lain, metode berjenjang adalah proses pembelajaran mengarang dengan mengunakan metode pembelajaran secara

bertahap atau berjenjang.

5.4 Rancangan dan Prosedur Pelaksanaan Metode Berjenjang

Tidak dapat disangkal lagi, bahwa pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan khususnya sekolah yang tergolong berada di daerah pedusunan, peranan metode dalam pembelajaran merupakan hal yang mutlak. Betapa tidak, daerah asal siswa yang khas dengan lingkungan marginal, dengan segala asfeknya kental melekat pada siswa-siswinya. Kenyataan ini merupakan pemandangan keseharian seorang guru Sekolah Menengah Kejuruan yang bertugas di tempat tersebut.

Kaitannya dengan pembelajaran bahasa Indonesia, maka metode berjenjang adalah suatu cara yang ditempuh sehingga pembelajaran menjadi aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Pembelajaran tidak akan bermakna sesuai dengan harapan bila guru tidak memanfaatkan metode ini.

Penggunaan metode harus memperhatikan tahapan perkembangan berfikir anak usia Sekolah Menengah memiliki kecenderungan cirri umum sebagai berikut : (1) Beranjak dari hal-hal kongrit, (2) Memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu kebutuha, terpadu, dan melalui proses manipulatif, dan (3) Berkembang melalui tahapan hierarkis


Ketiga kecenderungan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

1) Proses belajar dimulai dari hal-hal yang kongkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibau, diraba atau diutak-atik.

2) Memandang sesuatu secara global atau keseluruhan sebagai suatu keutuhan yang unsur-unsurnya belum jelas.

3) Berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang kompleks. Artinya seseorang harus menguasai lebih dahulu hal yang sederhana baru ia menguasai hal yang kompleks. Prinsip ini dalam teori piaget disebut Prinsip Invarian.

a. Perencanaan/Rancangan

Kegiatan akan dilaksanakan 2 kali, yang selanjutnya disebut sebagai siklus. Setiap siklus memiliki tahapan sebagai berikut:

1) Tahap Perencanaan

Pada tahap ini kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah :

a) Peneliti mengidentifikasi permasalahan kualitas proses pembelajaran, penguasaan siswa terhadap standard materi atau prestasi belajar siswa sebagai acuan dalam memetakan permasalahan pokok pada penguasaan metode pembelajaran dan pendekatan serta hasil evaluasi pembelajaran berdasarkan KTSP.

b) Peneliti merumuskan kriteria yang tepat dalam implementasi pendekatan pembelajaran sesuai KTSP, dan tingkat penguasaan terhadap standard kompetensi bahasa Indonesia.

c) Peneliti menyusun model pembelajaran dengan pengunaan metode berjenjang terhadap materi yang akan disampaikan.

d) Peneliti menyusun alat evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa pada asfek kognitif, sikap dan psikomotorik berdasarkan standard materi bahasa Indonesia.

e) Peneliti menyusun instrument yang akan digunakan untuk mengetahui bagaimana aktifitas siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.

f) Peneliti mengadakan micri teaching untuk mengetahui efektifitas implementasi penggunaan metode yang akan diterapkan.

g) Peneliti menetapkan model yang tepat untuk kegiatan tindakan.

2) Tahap Tindakan

Pada tahap ini, peneliti melaksanakan seluruh isi pesan dalam tahap perencanaan pada proses pembelajaran berdasarkan pendekatan yang digunakan dan diakhiri dengan kegiatan evaluasi. Pada tahap ini hakekatnya bertujuan untuk mengetahu :

a. Apakah seluruh materi pembelajaran sesuai dengan metode yang digunakan

b. Apakah seluruh materi pembelajaran telah dilaksanaoleh guru sesuai dengan pendekatan yang ditetapkan apakah alat evaluasi telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan menggunakan pendekatan seperti yang diamanatkan KBK/KTSP.

c. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan hal itu terjadi.

d. Alternatif-alternatif apakah yang dapat ditempuh untuk memecahkan masalah yang ada.

e. Apakah hasil yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut.

3) Tahap Refleksi dan Evaluasi

Pada tahap ini peneliti mengkaji temuannya selama kegiatan observasi. Hasil yang telah diperoleh sebelum dan sesudadilakukan observasi. Kemudian hasil keduanya dibandingkan, hal ini bertujuan untuk mengatahui metode pembelajaran dan pendekatan kontekstual sesuai KTSP dan tingkat penguasaan siswa terhadap standard kompetensi bahasa Indonesia.

Adapun langkah-langkah untuk siklus pertama merupakan dasar untuk siklus kedua adalah : (1) melaksanakan tahapan perencanaan, (2) tahapan tindakan, (3) tahapan observasi, dan (4) tahapan refleksi dan evaluasi.

Hasil akhir pada siklus pertama digunakan sebagai dasar untuk melakukan perencanaan pada siklus kedua dan seterusnya. Pada siklus kedua, peneliti memperoleh model pembelajaran dengan metode galeri dan pendekatan kontekstual sesuai dengan KBK/KTSP.

Indikator keberhasilan tindakan ini, meliputi : (1) motivasi atau minat belajar siswa dengan metode berjenjang pada pembelajaran bahasa Indonesia sesuai dengan KTSP, yang dapat dilihat pada unsure kreatifitas siswa, keaktifan siswa, dan keterlibatan sumber belajar secara menyeluruh, (2) peningkatan kemampuan siswa dalam penguasaan materi bahasa Indonesia dengan ditandai unsure pengunaan evaluasi pembelajaran yang meliputi asfek pengetahuan, asfek sikap, dan asfek keterampilan dengan ukuran skor minimal 65 % , dan klasikal 70 % berdasarkan standard materi yang telah ditetapkan.

Dari uraian di atas diketahui bahwa sumber data penelitian ini adalah guru dan siswa. Peneliti memperoleh data tentang implementasi pengunaan metode pembelajaran bahasa Indonesia sesuai dengan KTSP, sedangkan siswa peneliti memperoleh data prestasi belajar bahasa Indonesia. Data diperoleh dar i lembar dokumentasi untuk memperoleh

Kesiapan proses pembelajaran di kelas, sedangkan dari siswa diperoleh data berupa lembar tes yang digunakan untuk mengetahui penguasaan standar materi bahasa Indonesia yaitu afektif dan psikomotorik

b. Prosedur

Penelitian ini direncanakan berlangsung tiga siklus dan masing-masing siklus terdiri dari tiga tahap yaitu tahap perencanaa, tindaan, observasi dan tahap refleksi.


6. Metode Penelitian

6.1 Metode Penentuan Subjek Penelitian

Populasi adalah suatu himpunan yang terdiri dari orang, hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda, yang mempunyai kesamaan sifat. (Fraenker dan Wallen: 1990 : 68).

Populasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu Target population dan Accessible population Fraenkel. Jakc R. and Wallen. Norman E. (1990). Target Population atau dapat disebut Actual Population adalah populasi yang dianggap peneliti benar-benar sulit menggeneralisasikannya ( jarang di dapatkan). Contohnya: seluruh siswa kelas XI Sekolah Menengah Kejuruan di Lombok Timur.

Sedangkan Accessibile Population adalah populasi yang dapat digeneralisasikan dengan tampa kesulitan oleh peneliti.contoh: seluruh siswa kelas XI Sekolah Menengah Kejuruan Yapis Santong.

Populasi dalam penelitian ini adalah guru dan seluruh siswa kelas XI SMK YAPIS Santong Tahun Pelajaran 2010-2011 yang berjumlah 1 orang guru dan 14 orang siswa.

Tabel 01: Populasi Guru dan Siswa Kelas XI SMK YAPIS Santong Tahun Pelajarn 2010-2011.

No

Kelas XI

Nama Guru

L

P

1.

10

4

ZUMRI













6.2 Metode Pengumpulan Data

Agar tujuan sebuah penelitian tercapai sesuai harapan dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik, maka diperlukan teknik pengumpulan data yang tepat. Dengan ketepatan tenik pengumpulan data ini maka data yang dihasilkan dapat dijamin objetifitasnya. Sehubungan dengan itu dalam penelitian ini penulis menggunaan beberapa metode yang berkaitan langsung dengan sumber data. Metode-metode yang dimaksud adalah :

1. Metode Observasi

Observasi merupakan metode pengumpulan data menggunakan pengamatan terhadap obyek penelitian. Observasi dapat dilaksanakan secara langsung maupun tidak langsung.

Observasi langsung adalah mengadakan pengamatan secara langsung terhadap gejala-gejala subyek yang diselidiki,baik pengamatan itu dilakukan didalam situasi sebenarnya maupun dilakukan di dalam situasi buatan yang khusus diadakan. Sedang observasi tak langsung adalah mengadakan pengamatan terhadap gejala-gejala subyek yang diselidiki dengan perantara sebuah alat. Pelaksanaannya dapat berlangsung di dalam situasi yang sebenarnya maupun di dalam situasi buatan.

Menurut Donald Ary,dkk (1985). Bahwa ada lima langkah pendahuluan yang diambil pada waktu melakukan pengamatan langsung, yaitu:

a. Aspek tingkah laku yang akan di amati harus di pilih.

b. Tingkah laku yang masuk kedalam kategori yang telah dipilih harus dirumuskan dengan jelas.

c. Orang yang akan melakukan pengamatan harus dilatih.

d. Suatu sistem untuk mengukur pengamatan harus di kembangkan.

e. Perosedur terperinci untuk mencatat tingkah laku harus di kembangkan.

Menurut Jehoda,dkk. ( 1959 ) bahwa observasi menjadi alat penyelidikan ilmiah apabila:

a. Mengacu kepada tujuan-tujuan research yang telah di rumuskan.

b. Direncanakan secara sistematik.

c. Dicatat dan dihubungkan secara sistematik dengan proporsi yang lebih umum, tidak hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu semata.

d. Dapat di cetak dan dikonrol validitas,reliabilitas dan ketelitiannya sebagaimana data ilmiah lainnya.

2. Metode Interview

Interview atau wawancara merupakan metode pengumpulan data yang menghendaki komunikasi langsung antara penyelidik dengan subyek atau responden.Dalam interview biasanya terjadi tanya jawab sepihak yang di lakukan secara sistematis dan berpijak pada tujuan penelitian.


3. Metode Dokumentasi

Dokumentasi berasal dari kata Dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Metode dokumentasi berarti cara mengumpulkan data dengan mencata t data-data yang sudah ada. Metode ini lebih mudah dibandingkan dengan meode pengumpulan data yang lain.

Dalam menggunakan metode dokumentasi ini,biasanya peneliti membawa instrument dokumentasi yang berisi instansi variabel-variabel yang akan di dokumentasikan dengan menggunakan check list untuk mencatat variable yang sudah di tenukan tadi dan nantinya tinggal membubuhkan tanda cek di tempat yang sesuai. Guba dan Lincoln (1981) mengatakan bahwa dokumen ialah setiap bahan tertulis ataupun film yang sering digunakan untuk keperluan penelitian

4. Metode Tes

Tes adalah serentetan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, sikap,inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.

Beberapa macam jenis Tes yang biasa digunakan dalam pendidikan yaitu: tes kepribadian, tes bakat, tes inteligensi, tes minat, tes prestasi dan tes sikap

6.3 Metode Analisis Data

Setelah data diperoleh, selanjutnya diklasifikasi disajikan kembali untuk identifikasi. Hasil identifikasi, diklasifikasikan berdasarkan asfek-asfek yang relevan secara deskriftif. Harus diakui bahwa data yang diperoleh dari suatu penelitian hanyalah merupakan bahan mentah belaka. Data-data itu tidak berarti apa-apa bila tidak diolah sedemikian rupa. Pengolahan data itu mengunakan metode tertentu yang disebut metode analisis data.

Adapun langah-langkah yang di tempuh dalam upaya menganalisis data penelitian ini terdiri atas tiga tahap yaitu a) tahap identifikasi b) Tahap klasifikasi c) Tahap interpretasi

Ardana (1988:16) metode analisa adalah suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menggunakan suatu teknik tertentu sehingga diperoleh sesuatu untuk menganalisa data, peneliti dalam hal ini terlebih dahulu menentukan rata-rata, kemampuan individual dan kemampuan kelompok siswa dapat dicari dengan menggunakan rumus kemampuan individual dan kelompok di bawah ini:

1. Menentukan nilai rata-rata

Keterangan:

R = Nilai Rata-rata

= Total nilai seluruh subjek

N = Jumlah Subjek (Nurkencana, 1986:118)

2. Kemampuan Individu

Langkah-langkah dibawah ini adalah urutan untuk mencari kemampuan individu sebagai berikut:

1. Mencari skor maksimal ideal (Sni)

2. Mencari angka rata-rata ideal dengan rumus : Mi = ½ x Smi

3. Mencari Standar devinisi Ideal dengan rumus: Sdi ½ x Smi

4. Pedoman pengkategorian kemampuan

a. Mi + Sdi sd Mi + 3 SDi → kemampuan tinggi

b. Mi - SDi sd Mi + 1 SDi → kemampuan sedang

c. Mi - 3 STh sd Mi - 1 SDi → Kemampuan rendah

5. Penafsiran tentang prestasi kelas

a. Apabila indeks prestasi kelas berkisar antara 0 samapi 33 dapat ditafsirkan bahwa prestasi kelas tersebut rendah

b. Apabila indeks prestasi kelas berkisar antara 33 sampai dengan 65 dapat ditafsirkan bahwa prestasi kelas tersebut sedang

c. Apabila indeks prestasi kelas berkisar antara 66 sampai dengan 1010 dapat ditafsirkan bahwa prestasi kelas tersebut tinggi



3. Menentukan Indeks Prestasi

Rumus =

Kterangan:

TPK = Indek prestasi kelompok

M = Mean atau nilai rata-rata

SMi = Skor maksimal ideal

Pedoman pengkategorian kemampuan kelompok

a. 90 – 100 = Sangat tinggi

b. 75 – 89 = Tinggi

c. 55 – 74 = Normal

d. 31 – 54 = rendah

e. 0 – 30 = Sangat rendah

Wayan Nurkencana (1986:118)


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1990 Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta

Ary, Donal Jacob Lucy Chaser, Razavieh Agshars.1985. Introduction to Research in Education. New York:Halt Rinehart and Winston.

Badudu, JS. 1978. Pelik-Pelik Bahasa Indonesia. Bandung: PT Bina Cipta.

Faesal, Sanafiah. 1981. Dasar-dasar Teknik Keilmuan. Surabaya, Indonesia: Usaha Nasional.

Fraenkel, Jakc R, and Wallen, Norman E. 1990. How to Design Ecaluate Research in Education. USA MC Gaw Hill.

Guba, Egon G.& Yvonna S. Lincon, 1981. Effective Evaluation,

Publesher,Sanfransisco: Jossey-Bass.

Hakin, A Dkk. 1992. Segi Praktis Bahasa Indonesia. Surabaya : SIC

Hamzah, A. 1988. Dasar-Dasar Pendidikan (Diktat). Mataram: FKIP Unram

Jehoda,M.M. Deutsch, and S. W. Cook, 1959, Research Methods in Social Relation, Basic Processes, Vol.1. New York,The Dryden Press.

JohnW,Best.1985.Researc in Education,Third Edition,PrenticeHall Indiana.

Netra, IB. 1974. Metodologi Penelitian. Singaraja : Biro Penerbitan FIP Unud Singaraja.

Nasir, Moch.1985. Metode Penelitian. Indonesia Jakarta: Ghalia.

Ryanto Yatim.1989.Metode Penelitian Pendidikan, Sebagai Pendekatan Dasar. Surabaya: IKIP PGRI.

Winston. 1986. Membagi Sebagai suatu Keterampilan Berbahasa, Bandung: Angkasa

Download Selengkapnya DI SINI (File Word 2007)

No comments:

Post a Comment

Post a Comment